Jumat, 06 Juni 2014

MENDESAIN PRODUK, MEREK, KEMASAN DAN LAYANAN

MENDESAIN PRODUK, MEREK, KEMASAN DAN LAYANAN

Bab 5


LATAR BELAKANG
Latar belakang penulisan bertujuan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Dasar Pemasaran yang diberikan Bpk Fitriansyah Hambali, SE, MM.

RUMUSAN MASALAH
1.      Arti Produk
2.      Penggolongan Produk
3.      Strategi dan keputusan merek dan kemasan
4.      Keputusan pelayanan
5.      Produk individual dan lini produk

ANALISIS


1. Arti Produk
            Dalam bisnis, produk adalah barang atau jasa yang dapat diperjualbelikan. Dalam marketing, produk adalah apapun yang bisa ditawarkan ke sebuah pasar dan bisa memuaskan sebuah keinginan atau kebutuhan.Dalam tingkat pengecer, produk sering disebut sebagai merchandise. Dalam manufaktur, produk dibeli dalam bentuk barang mentah dan dijual sebagai barang jadi. Produk yang berupa barang mentah seperti metal atau hasil pertanian sering pula disebut sebagai komoditas.
            Kata produk berasal dari bahasa Inggris product yang berarti "sesuatu yang diproduksi oleh tenaga kerja atau sejenisnya".Bentuk kerja dari kata product, yaitu produce, merupakan serapan dari bahasa latin prōdūce(re), yang berarti (untuk) memimpin atau membawa sesuatu untuk maju. Pada tahun 1575, kata "produk" merujuk pada apapun yang diproduksi ("anything produced").Namun sejak 1695, definisi kata product lebih merujuk pada sesuatu yang diproduksi ("thing or things produced"). Produk dalam pengertian ekonomi diperkenalkan pertama kali oleh ekonom-politisi Adam Smith. Dalam penggunaan yang lebih luas, produk dapat merujuk pada sebuah barang atau unit, sekelompok produk yang sama, sekelompok barang dan jasa, atau sebuah pengelompokan industri untuk barang dan jasa.
2. Penggolongan Produk
1. Berdasarkan wujudnya, produk dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok utama, yaitu:
a) Barang
Barang merupakan produk yang berwujud fisik, sehingga bisa dilihat, diraba atau disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dipindahkan, dan perlakuan fisik lainnya.
b) Jasa
Jasa merupakan aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual (dikonsumsi pihak lain). Seperti halnya bengkel reparasi, salon kecantikan, hotel dan sebagainya. Kotler (2002, p.486) juga mendefinisikan jasa sebagai berikut : “ Jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apa pun. Produknya dapat dikaitkan atau tidak dikaitkan dengan suatu produk fisik.
2. Berdasarkan aspek daya tahannya produk dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
a. Barang tidak tahan lama (nondurable goods)
Barang tidak tahan lama adalah barang berwujud yang biasanya habis dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian. Dengan kata lain, umur ekonomisnya dalam kondisi pemakaian normal kurang dari satu tahun. Contohnya: sabun, pasta gigi, minuman kaleng dan sebagainya.
b. Barang tahan lama (durable goods)
Barang tahan lama merupakan barang berwujud yang biasanya bisa bertahan lama dengan banyak pemakaian (umur ekonomisnya untuk pemakaian normal adalah satu tahun lebih). Contohnya lemari es, mesin cuci, pakaian dan lain-lain.

3. Berdasarkan tujuan konsumsi yaitu

didasarkan pada siapa konsumennya dan untuk apa produk itu dikonsumsi, maka produk diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:

a) Barang konsumsi (consumer’s goods)
Barang konsumsi merupakan suatu produk yang langsung dapat dikonsumsi tanpa melalui pemrosesan lebih lanjut untuk memperoleh manfaat dari produk tersebut.
b) Barang industri (industrial’s goods)
Barang industri merupakan suatu jenis produk yang masih memerlukan pemrosesan lebih lanjut untuk mendapatkan suatu manfaat tertentu. Biasanya hasil pemrosesan dari barang industri diperjual belikan kembali.
Menurut Kotler (2002, p.451), ”barang konsumen adalah barang yang dikonsumsi untuk kepentingan konsumen akhir sendiri (individu dan rumah tangga), bukan untuk tujuan bisnis”. Pada umumnya barang konsumen dibedakan menjadi empat jenis :
a) Convenience goods
Merupakan barang yang pada umumnya memiliki frekuensi pembelian tinggi (sering dibeli), dibutuhkan dalam waktu segera, dan hanya memerlukan usaha yang minimum (sangat kecil) dalam pembandingan dan pembeliannya. Contohnya antara lain produk tembakau, sabun, surat kabar, dan sebagainya.
b) Shopping goods
Barang-barang yang dalam proses pemilihan dan pembeliannya dibandingkan oleh konsumen diantara berbagai alternatif yang tersedia. Contohnya alat-alat rumah tangga, pakaian, furniture, mobil bekas dan lainnya.
c) Specialty goods
Barang-barang yang memiliki karakteristik dan/atau identifikasi merek yang unik dimana sekelompok konsumen bersedia melakukan usaha khusus untuk membelinya. Misalnya mobil Lamborghini, pakaian rancangan orang terkenal, kamera Nikon dan sebagainya.
d) Unsought goods
Merupakan barang-barang yang tidak diketahui konsumen atau kalaupun sudah diketahui, tetapi pada umumnya belum terpikirkan untuk membelinya. Contohnya asuransi jiwa, ensiklopedia, tanah kuburan dan sebagainya.
3. Strategi dan keputusan merek dan kemasan
MERK
Merk  adalah nama, istilah, tanda, simbol, desain, atau suatu kombinasi dari atribut-atribut produk yang dapat memberikan identitas kepada suatu barang dan membedakan barang tersebut dengan barang yang lainnya. Setiap barang memiliki merk yang berbeda-beda, begitu juga fungsi merk bagi pembeli, produsen, maupun pedagang. Beberapa fungsi merk, yaitu:
Ø  Bagi Pembeli: sebagai dasar penentuan pilihan, jaminan kualitas, kepuasan
Ø  Bagi Produsen: sebagai identitas, promosional, membangun citra produk, dan mengendalikan pasar
Ø  Bagi Pedagang: untuk pengendalian persediaan, prestos, dan kompetitif
Strategi pengembangan merk, yaitu:
Ø  Line extension/Perluasan lini produk
Strategi ini menggunakan nama merek yang sudah ada ditambahkan variasi seperti  diubah ke dalam bentuk baru, ukuran kemasan yang berbeda, warna dan rasa yang baru namun masih dengan nama merek yang sama.
Ø  Brand extension/Perluasan merek
Strategi ini menggunakan nama merek yang sudah ada dikembangkan dan diperkenalkan untuk meluncurkan produk baru atau produk modifikasi.
Ø  Multi brand/Aneka merek
Strategi ini memperkenalkan banyak merek baru namun masih dalam kategori produk yang sama.
Ø  New brand/Merek baru
Pada strategi ini adalah meluncurkan merek yang benar-benar baru untuk kategori produk yang baru juga bagi perusahaan.

KEMASAN
                Menurut Kotler,  Packaging merupakan proses yang berkaitan dengan perancangan dan pembuatan wadah atau pembungkus suatu produk. Fungsi dari kemasan, yaitu:
Ø  Pelindung isi (dari kerusakan, kehilangan, dsb)
Ø  Kemudahan menggunakan produk (alat pemegang, tidak tumpah)
Ø  Pemakaian ulang (dapat diisi kembali, untuk wadah lain)
Ø  Daya tarik (artistic, warna, atau desain)
Ø  Identitas (berkesan kokoh, lembut, atau mewah)
Ø  Distribusi (mudah disusun, dihitung, atau dipindahkan)
Ø  Informasi (informasi isi, pemakaian, kualitas)
Ø  Pengembangan (kemajuan teknologi, daur ulang)
Untuk meningkatkan penjualan, perusahaan harus memberikan keunikan atau ciri khas dari produk. Salah satunya yaitu kemasan produk yang mempunyai peranan penting dalam penjualan. Dimana kemasan bukan hanya sebagai pembungkus, tetapi juga bisa dijadikan sebagai salah satu alat promosi efektif yang dapat memberikan informasi kepada konsumen mengenai produk perusahaan. Untuk itu dalam membuat kemasan harus dibuat sebagus mungkin. Salah satu alasan konsumen tertarik membeli produk dikarenakan kemasan yang menarik.
Memang kemasan kini disadari oleh produsen bukan lagi hanya memiliki fungsi melindungi dan membungkus produk. Persaingan produk yang semakin ketat di pasar mengharuskan produsen untuk berfikir keras meningkatkan fungsi kemasan untuk dapat memberikan daya tarik kepada konsumen melalui aspek artistik, warna, grafis, bentuk maupun desainnya. Banyak konsumen yang membeli secara sadar akan suatu produk karena tertarik pada suatu produk karena alasan warna, bentuk dari kemasan. Belum lagi konsumen yang membeli karena impulse buying, gara-gara menariknya desain, atau bentuk kemasan suatu produk. Sehingga kemasan menjadi sangat efektif untuk mendorong konsumen membeli suatu produk.
Melalui kemasan produk, image produk juga dapat dibentuk misalnya  sebagai produk yang kokoh, awet, mewah atau tahan lama. Sehingga konsumen akan memilih suatu produk karena sesuai syarat yang akan dibeli misalnya produk yang tahan lama, tidak mudah rusak dan terjaga kualitasnya. Konsumen seringkali membeli suatu produk tidak untuk segera dikonsumsi tetapi untuk persediaan, sehingga ia membutuhkan produk yang terlindungi secara baik isinya, dari kerusakan, berkurangnya isi dan pengaruh cuaca. Dari sisi distribusi, kemasan juga memegang peranan penting karena dengan kemasan produk akan mudah disusun, dihitung, ditangani dan disalurkan secara lebih baik dan cepat. Kemudahan dalam distribusi menjadikan kemasan didesain tertentu dan dengan ukuran yang mudah untuk dipindahkan dari suatu tempat ke tempat lainnya.

5. Produk individual dan lini produk

  1. Level Produk
Dalam merencanakan tawaran pasar, pemasar perlu berpikir melalui lima level produk. Tiap level menambahkan lebih banyak nilai pelanggan dan kelimanya membentuk hierarki nilai pelanggan.
Lima level produk :
1.        Manfaat inti (core benefit), yaitu jasa atau manfaat dasar yang sesungguhnya dibeli oleh pelanggan.
2.        Produk dasar (basic product)
3.        Produk yang diharapkan (expected product), serangkaian atribut dan kondisi yang biasanya diharapkan oleh para pembeli ketika membeli produk itu.
4.        Produk yang ditingkatkan (augmented product) yang melampau harapan pelanggan.
5.        Produk potensial (potential product) yang mencakup semua peningkatan dan transformasi yang pada akhirnya akan dialami produk tersebut di masa depan.
  1. Hierarki Produk
Tiap produk berkaitan dengan produk-produk lain tertentu. Hierarki produk terentang mulai dari kebutuhan dasar sampai produk-produk khusus yang memuaskan kebutuhan khusus.
Tujuh level hierarki produk :
1.        Rumpun kebutuhan (need family) : kebutuhan inti yang mendasari keberadaan suatu kelompok produk
2.        Rumpun produk (product family) : semua kelas produk yang dapat memenuhi semua kebutuhan inti dengan efektifitas yang memadai.
3.        Kelas produk (product class) : sekelompok produk dalam rumpun produk yang diakui mempunyai persamaan fungsional
4.        Lini produk (product line) : sekelompok produk dalam suatu kelas produk yang berkaitan erat karena produk-produk itu melaksanakan fungsi yang serupa, dijual pada kelompok pelanggan yang sama, dipasarkan melalui saluran distribusi yang sama, atau berada dalam rentang harga tertentu.
5.        Jenis produk (product type) : sekelompok produk dalam lini produk yang sama-sama memiliki sejumlah kemungkinan bentuk produk.
6.        Merek (brand) : nama yang diasosiasikan dengan satu atau beberapa produk dalam lini produk, yang digunakan untuk mengidentifikasi sumber atau karakter produk tersebut.
7.        Unit produk(item, juga disebut stockkeeping unit atau product variant) : satu unit tersendiri dalam suatu merek atau lini produk yang dapat dibedakan menurut ukuran, harga, penampilan, atau atribut lain.
Ada dua istilah lain yang sering digunakan berkenaan dengan hierarki produk.
1.        Sistem produk (product system) adalah sekelompok produk yang berbeda tetapi saling berhubungan yang berfungsi dengan cara saling melengkapi. Misalnya, Nikon Company menjual kamera beserta satu set lensa, filter dan pilihan lain yang membentuk suatu sistem produk.
2.        Bauran produk (product mix atau product assortment) merupakan rangkaian dari seluruh produk dan varian produk yang ditawarkan satu penjual tertentu kepada para pembeli.

  1. Klasifikasi Produk
Pemasar biasanya mengklasifikasikan produk berdasarkan karakteristik produk : daya tahan, keberwujudan, dan penggunaan (konsumen atau industri). Tiap jenis produk memiliki strategi bauran pemasaran yang sesuai.

a.        Klasifikasi Daya Tahan dan Keberwujudan
Produk dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok menurut daya tahan dan wujudnya :
1.        Barang yang tidak tahan lama (nondurable goods) : adalah barang berwujud yang biasanya dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali penggunaan.
2.        Barang tahan lama (durable goods) : adalah barang berwujud yang biasanya dapat digunakan berkali-kali.
3.        Jasa (service) : jasa bersifat tidak berwujud, tidak dapat dipisahkan, dan mudah habis.

b.       Klasifikasi Barang Konsumen
Banyaknya jenis barang yang dibeli konsumen dapat diklasifikasikan berdasarkan kebiasaan berbelanja konsumen, yaitu :
1.        Barang kenyamanan (convenience) : adalah barang-barang yang biasanya sering dibeli konsumen, segera, dan dengan usaha yang minimum. Contohnya, surat kabar, rokok, sabun dsb.
      Barang convenience terbagi atas :
a.        Barang kebutuhan sehari-hari (staples) : adalah barang yang dibeli konsumen secara teratur. Contohnya : sikat gigi, sabun dsb.
b.        Barang dadakan (impulse) : barang yang dibeli berdasarkan keinginan seketika, tanpa perencanaan atau usaha pencarian. Contoh : permen dsb.
c.        Barang darurat (emergency) : adalah barang yang dibeli saat kebutuhan itu mendesak. Contoh : payung, jas hujan dsb.
2.        Barang belanjaan (shopping) : adalah barang-barang yang karakteristiknya dibandingkan berdasarkan kesesuaian, kualitas, harga, dan gaya dalam proses pemilihan dan pembelian. Contohnya furniture, pakaian, mobil bekas, dsb.
      Barang shopping terbagi atas :
a.        barang homogen : memiliki mutu yang serupa tetapi mempunyai harga yang cukup berbeda sehingga dapat dijadikan alasan perbandingan dalam berbelanja.
b.        Barang heterogen : berbeda dalam keistimewaan dan jasa produk yang mungkin lebih penting daripada harganya.
3.        Barang khusus (specialty goods) : adalah barang-barang dalam karakteristik unik atau identifikasi merek dimana untuk memperoleh barang itu sekelompok pembeli yang cukup besar bersedia melakukan usaha khusus untuk membelinya. Contoh mobil mewah, jas khusus pria dsb.
4.        Barang yang dalam kondisi normal tidak dicari (unsought) : adalah barang-barang yang tidak diketahui konsumen atau diketahui namun secara normal konsumen tidak berpikir untuk membelinya. Contoh. Tanah kuburan, asuransi jiwa, ensiklopedia dsb.



4.      Klasifikasi Barang Industri
Tiga kelompok barang industri :
  1. Bahan baku dan suku cadang (materials & parts) : adalah barang-barang yang sepenuhnya memasuki produk yang dihasilkan. Terbagi atas dua kelas :
a.        Bahan mentah : Bahan mentah terbagi atas dua kelas utama :
1)       Produk pertanian misalnya gandum, padi, kapas, ternak, dsb.
2)       Produk alam misalnya ikan, kayu, minyak mentah, biji besi, dsb.
b.        Bahan baku dan suku cadang hasil manufaktur : Dibagi atas dua kategori :
1)       Bahan baku komponen misalnya, besi, kabel, semen, dsb.
2)       Suku cadang komponen misalnya, motor kecil, ban, cetakan, dsb.
  1. Barang modal (capital items) : adalah barang-barang tahan lama yang memudahkan pengembangan dan atau pengelolaan produk akhir. Terbagi atas dua kelompok :
a.        Instalasi, Instalasi terdiri dari :
1)       Bangunan misalnya pabrik dan kantor
2)       Peralatan misalnya generator, bor, lift, dsb.
      Instalasi merupakan pembelian yang besar. Instalasi biasanya dibeli langsung dari produsennya.
b.        Peralatan
      Meliputi peralatan dan perkakas pabrik yang dapat dibawa-bawa misalnya perkakas pertukangan, truk pengangkut serta peralatan kantor misalnya PC dan meja.
      Peralatan memiliki umur yang lebih singkat dibandingkan instalasi tetapi umurnya lebih panjang dibandingkan perlengkapan operasi.
  1. Perlengkapan dan Jasa Bisnis : adalah barang dan jasa tidak tahan lama yang membantu pengembangan dan atau pengelolaan produk akhir.
Perlengkapan ada dua jenis :
a.        Perlengkapan operasi misalnya pelumas, batu bara, kertas tulis, pensil, dsb.
b.        Barang untuk pemeliharaan dan perbaikan misalnya cat, paku, sapu dsb.
Perlengkapan ekuivalen dengan barang convenience dalam bidang industri ; perlengkapan biasanya dibeli dengan usaha minimum berdasarkan pembelian ulang langsung.
Jasa bisnis meliputi :
a.        Jasa pemeliharaan dan perbaikan misalnya membersihkan jendela, reparasi mesin tik, dsb.
b.        Jasa konsultasi bisnis misalnya konsultasi manajemen, hukum, iklan, dsb.

  1. Bauran Produk
Bauran produk (product mix, juga disebut product assortment) : adalah kumpulan dari semua produk dan unit produk yang ditawarkan penjual tertentu kepada pembeli. Misalnya kodak terdiri atas dua lini produk utama : produk informasi dan produk citra. Michelin memiliki tiga lini produk : ban, jasa, dan pemeringkat restoran.
Bauran produk suatu perusahaan memiliki lebar, panjang, kedalaman dan konsistensi tertentu :
  1. Lebar bauran produk mengacu pada berapa banyak macam lini produk perusahaan itu.
  2. Panjang bauran produk mengacu pada jumlah unit produk dalam bauran produknya.
  3. Kedalaman bauran produk mengacu pada berapa banyak varian yang ditawarkan tiap produk dalam lini tersebut.
  4. Konsistensi bauran produk mengacu pada seberapa erat hubungan berbagai lini produk dalam hal penggunaan akhir, persyaratan produksi, saluran distribusi, atau hal lainnya.

REFERENSI

http://artikelbaden.blogspot.com/2012/06/mengelola-lini-produk-dan-merek-produk.html

PENGERTIAN KONSEP DAN LINGKUP PEMASARAN

PENGERTIAN KONSEP DAN LINGKUP PEMASARAN

BAB 1




LATAR BELAKANG
Latar belakang penulisan bertujuan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Dasar Pemasaran yang diberikan Bpk Fitriansyah Hambali, SE, MM.

RUMUSAN MASALAH
1.      Pengertian dan ruang lingkup pemasaran
2.      Perkembangan dan sejarah pemikiran tentang pemasaran
3.      Konsep dan orientasi pemasaran Fungdi universal dan tantangan pemasaran

ANALISIS
1. Pengertian dan Ruang Lingkup Pemasaran
            Banyak pengertian yang diberikan mengenai  manajemen pemasaran.Salah satu pengertian menyatakan, bahwa manajemen pemasaran merupakan kegiatan penganalisisan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian program-program yang dibuat untuk membentuk, membangun, memelihara, keuntungan dari pertukaran melalui sasaran pasar guna mencapai tujuan organisasi (perusahaan) dalam jangka panjang.
            Dengan batasan pengertian mengenai manajemen pemasaran seperti di atas, maka akan tercakup ruang lingkup yang sangat luas. Secara singkat dapat dinyatakan bahwa manajemen pemasaran mencakup seluruh falsafat,konsep, tugas, dan proses manajemen pemasaran. Pada umumnya ruang lingkup manajemen pemasaran  meliputi:
  1. Falsafah manajemen pemasaran yang mencakup konsep dan proses pemasaran serta tugas-tugas manajemen pemasaran.
  2. Faktor lingkungan pemasaran merupakan faktor yang tidak dapat dikendalikan pimpinan perusahaan.
  3. Analisis pasar yang mencakup ciri-ciri dari masing-masing jenis pasar, analisis produk, analisis produk, analisis konsumen, analisis persaingan dan analisis kesempatan pasar.
  4. Pemilihan sasaran (target) pasar, yang mencakup dimensi pasar konsumen, perilaku konsumen, segmentasi pasar dan kriteria yang digunakan, peramalan potensi sasaran pasar dan penentuan wilayah pasar/penjualan.
  5. Kebijakan dan strategi produk, yang mencakup strategi, pengembangan produk, strategi produk baru, startegi lini produk, dan strategi acuan produk (product mix).
  6. Kebijakan dan strategi penyaluran, yang mencakup strategi penyaluran distribusi dan strategi distribusi fisik.
  7. Organisasi pemasaran, yang mencakup tujuan perusahaan dan tujuan bidang pemasaran, struktur organisasi pemasaran, proses dan iklim perilaku organisasi pemasaran. 

2. Perkembangan dan Sejarah Pemikiran Tentang Pemasaran

            Pemasaran sudah dipraktikkan sejak  jaman dahulu dan bahkan sejak jaman Nabi  Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW yang dalam hidupnya melakukan perdagangan atau bisnis. Di sini, kami menekankan pada karakter dan sifat Nabi Muhammad dalam melakukan proses bisnis. Nabi Muhammad telah menunjukan bagaimana cara berbisnis yang berpegang taguh pada kebenaran, kejujuran, dan sikap amanah sekaligus bisa tetap memperoleh keuntungan yang optimal. Dengan berpegang teguh pada nilai-nilai yang terdapat pada Al-Quran dan Hadist, Nabi Muhammad melakukan bisnis secara profesional. Nilai-nilai tersebut menjadi suatu landasan yang dapat mengarahkan untuk tetap dalam koridor yang adil dan benar. Landasan atau aturan-aturan inilah yang menjadi suatu syariah atau hukum dalam melakukan suatu bisnis. Isteri Nabi Muhammad SAW, yaitu Khadizah juga merupakan champion bisnis. Ia adalah jago pemasaran pada masa itu.
Mungkin masih banyak yang belum tahu bahwa peradaban bisnis modern berkembang sejak adanya revolusi industri di tahun 1900. Revolusi ini benar-benar mengubah tatanan struktur dan perilaku masyarakat pada saat itu. Bisnis yang tadinya berciri merkantilis (berdagang) kemudian berubah menjadi kapitalis. Kekuatan modal dipergunakan untuk membangun pabrik dan organisasi perusahaan,memproduksi barang, dan memperdagangkannya.
Pada proses ini muncullah pandangan-pandangan baru tentang bagaimana perilaku pasar terjadi dan bagaimana sebuah lembaga menjalankan kegiatan operasional untuk memenuhi kebutuhan pasar. Hal-hal inilah yang kemudian melatarbelakangi munculnya ilmu praktik manajemen bisnis, termasuk marketing.
Boleh jadi, ilmu marketing ketika itu memang menjadi jawaban atas berbagai pertanyaan yang tidak bisa diakomodasi oleh ilmu ekonomi yang telah berkembang terlebih dahulu. Marketing awalnya tak lebih dari aktivitas bisnis yang sederhana. Para ekonom pun hanya memasukkannya sebagai salah satu bentuk aktivitas ekonomi. Jika dikatakan bahwa marketing adalah ilmu yang dinamis, itu memang benar adanya. Sejarah teori dan konsep marketing selalu mengikuti perubahan struktur sosial dan ekonomi masyarakat. Kemunculan ide-ide baru yang memperkaya ilmu marketing terus berkembang seiring revolusi besar peradaban manusia.
Pengembangan konsep pemasaran perlu ditinjau secara terus menerus. Pemasaran sebagai suatu disiplin perlu juga ditelusuri dari asal-usulnya sebagai kegiatan bisnis sampai pada posisi kontemporer sebagai kegiatan umum yang berlaku untuk semua jenis organisasi dan transaksi valuta. Dalam domain yang diperluas tersebut ,  sentralitas  pelanggan dipertanyakan sebagai sifat dan tingkat dari proses pertukaran yang terjadi.
Bentuk modern pemasaran memiliki proses pertukaran dan transaksi yang membuat proses sebagai fokus (Alderson 1957, p5; Bagozzi 1975, p39; Kotler 1984, p4). Kotler menyatakan bahwa pertukaran mendefinisikan konsep yang mendasari pemasaran. Ia mendefinisikan pertukaran sebagai 'seni untuk mendapatkan produk yang diinginkan dari seseorang dengan menawarkan sesuatu kembali' (1988, p6). Agar pertukaran terjadi , Kotler percaya ada lima syarat yang harus dipenuhi: (1). Ada setidaknya dua pihak (2) Masing-masing pihak memiliki sesuatu yang mungkin bernilai kepada pihak lain (3) Masing-masing pihak mampu komunikasi dan pengiriman (4). Masing-masing pihak gratis untuk menerima atau menolak tawaran (5). Masing-masing pihak percaya itu tepat atau diinginkan untuk berurusan dengan pihak lain (Kotler 1988, p6).
Pemasaran karena itu terdiri dari serangkaian kegiatan yang memfasilitasi transaksi dalam perekonomian pertukaran . Sifat dan tingkat apa pertukaran tersebut dapat dipahami adalah hal  mendasar yang perlu diketahui untuk memahami domain pemasaran.
American Marketing Association (AMA) tampaknya sering mendefinisikan pemasaran. Tentu saja di Australia dan Selandia baru, teks teks dan definisi  Amreika  mendoinasi  studi disiplin pemasaran di  akademi. Saat ini AMA mendefinisikan pemasaran, sebagai  'Proses perencanaan dan pelaksanaan konsepsi, harga, promosi dan distribusi ide barang dan jasa untuk membuat pertukaran dan memenuhi tujuan individu dan organisasi' (Marketing News, 1985, halaman 1).
Menurut definisi ini, kurangnya kekhususan sekitar kata pertukaran dan frasa yang secara jelas disengaja  oleh  individu dan organisasi yang jauh berbeda dengan American Marketing Association yang  banyak mempunyai definisi tahun 1960 yang lebih sempit. Definisi tahun 1960 menyatakan bahwa itulah pemasaran. 'Kinerja kegiatan usaha yang mengarahkan aliran barang dan jasa dari produser untuk konsumen atau pengguna' (Komite definisi, 1960, p.15). Ini tidak sangat berbeda dari definisi 1948 sebelumnya, 'Kinerja kegiatan diarahkan ke, dan insiden untuk, aliran barang dan jasa dari produser' untuk konsumen atau pengguna (American Marketing Association 1948)
Definisi 1948 Dan 1960 mencerminkan  pengalaman, sejarah dan asal-usul pemasaran. Sampai hamper 20 tahun lebih , jurnal, majalah dan teks mencerminkan  pandangan  pemasaran itu sendiri sebagai teknologi manajemen yang dapat diterapkan  pada lingkungan bisnis yang beroreintasi komersial. Ada beberapa pengecualian terhadap perspektif ini. Sebagai contoh, pada tahun 1931 Breyer menyumbang satu bab dalam buku teks pemasaran untuk mempelajari  utilitas public komoditi  pasar . Pada tahun 1951 Wiebe telah menyajikan  ide-ide provokatif dan contoh memperdagangkan  isu isu public  dengan menggunakan komunikasi pemasaran . Pada tahun 1967 Beckman dan Davidson berbicara tentang penekan  yang meningkat pada pemasaran sebagai proses social dalam tahun 1960-an.

MEMPERLUAS DOMAIN PEMASARAN
            Pada tahun 1969 definisi pemasaran yang lebih luas sudah diucapkan dengan jelas  (Kotler & Levy 1969) dan kemudian definisi ini lebih lanjut diperluas oleh Kotler pada tahun 1972. Kotler dan Levy berpendapat untuk secara dramatis domain  konseptual yang diperluas  untuk pemasaran dari kegiatan bisnis yang sekarang telah, 'meresap ke dalam kegiatan masyarakat  yang jauh melampaui penjualan pasta gigi, sabun dan baja' (Kotler & amp; Levy 1969, p10). Kotler dan Levy merasa warisan bisnis pemasaran menyediakan serangkaian konsep-konsep yang berguna untuk membimbing semua organisasi apakah berorientasi pada laba atau tidak dan apakah terlibat dalam memasarkan pasta gigi, orang atau ide ide. Pada kenyataannya mereka merasa bahwa  pilihan yang dihadapi manajer di organisasi nonbusiness bukannya apakah harus menggunakan pemasaran atau tidak tetapi apakah harus menggunakan pemasaram dengan baik atau tidak  (Kotler & amp; Levy 1969, p15).
Dalam mendukung pandangan pemasaran yang inklusif ini,  Kotler and Levy menggunakan contoh  departemen kepolisian  yang sedang mengembangkan  kampanye untuk mendapatkan teman dan memengaruhi  orang-orang,  direktur museum  yang mensponsori  pameran seni kontemporer  untuk memperluas  daya tarik museum; system  sekolah umum dengan menggunakan televise  untuk mendramatisir pekerjaan agar dapat meningkatkan bantuan untuk apa yang  dilakukannya  untuk mengatasi masalah drop out  sekolah, mengembang teknik pengajaran baru dan memperkaya anak anak . junta colonel militer Yunani  yang merebut kekuasaan di Yunani pada 1967 menyewa perusahaan  hubungan public  New York public untuk mengatur surat kabar untuk  memuat satu halaman penuh di surat kabar tersebut untuk iklan yang  menyatakan, 'Yunani diselamatkan dari komunisme', dan detail dalam cetakan kecil menanyakan  mengapa pengambil alihan ini diperlukan untuk stabilitas Yunani tersebut dan di dunia dan kelompok anti merokok di Canada  yang  melakukan cara cara inovatif untuk menggunakan dana mereka yang terbatas.(Kotler & Levy 1969, p11).
Menggunakan contoh ini dan batas-batas konseptual yang di[perluas, penulis dengan bangga menyatakan bahwa, 'pemasaran telah mempunyai kesempatan barunya  dan mengaitkan  kegiatan ekonomi dengan  tujuan social yang lebih tinggi ' (Kotler & amp; Levy 1969, p15).
Satu akademi  pemasaran terkemuka cepat mencoba untuk memperlunak klaim ambisi seperti itu Ia  prihatin bahwa ketika pandangan diajukan  oleh pengarang-pengarang terkemuka seperti Kotler dan Levy, mereka langsung menerimanya. Jadi pendapat yang bertentangan  membutuhkan suara kuat (Luck 1969). Memang Luck berpendapat bahwa jika sebuah definisi dibuat kerangkanya untuk memenuhi pernyataan Kotler dan Levy .
pemasaran tidak lagi akan dibatasi dari lembaga atau tujuan akhir dari kegiatan. Jika tugas yang dilakukan, di mana saja oleh siapa saja, bahwa beberapa kemiripan dengan tugas yang tampil dalam pemasaran, yang akan menjadi pemasaran ' (keberuntungan 1969, p53).
Kemudian pemasaran dikembangkan lagi dengan menambah tujuan social . bagaimana konsep dan teknik pemasaran dapat secara efektif diterapkan untuk promosi tujuan-tujuan sosial seperti persaudaraan, aman mengemudi dan keluarga berencana (Kotler & amp; Zaltman, 1971). Para penulis mengklaim untuk menunjukkan bagaimana sebab-sebab social  bisa maju secara lebih berhasil melalui menerapkan prinsip-prinsip analisis  pemasaran , perencanaan dan kontrol untuk masalah-masalah perubahan sosial. Pertanyaan Wiebe diajukan  pada tahun 1952, 'mengapa Anda tidak dapat  menjual persaudaraan seperti Anda menjual sabun?' (Wiebe 1951-2, p679), secara sederhana dijawab , 'Anda dapat'. Jawabn ini memperluas  lagi  domain pemasaran untuk memasukkan tidak hanya organisasi non-business dan nirlaba organisasi yang terlibat dalam proses pertukaran bilateral, tetapi juga organisasi yang terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan perubahan sosial
Yang menjadi Ironi di sini adalah bahwa perluasan definisi pemasaran  ini telah melanggar  premis dasar  konsep pemasaran yang sudah muncul tahun 1950-an yang beroreintasi pada  konsumen . Konsep pemasaran berbeda  dengan orientasi penjualan yang telah mendahuluinya dan orientasi produksi yang merupakan model pemasaran tahun 1930-an pemasaran. Menurut  istilah konsep pemasaran, pelanggan pusat dan organisasi memenuhi tujuan mereka oleh menemukan dan tetap berhubungan dengan kebutuhan dan keinginan pelanggan potensial  dan kemudian memuaskan mereka dengan menghasilkan produk yang sesuai
Pemasaran (Inggris:Marketing) adalah proses penyusunan komunikasi terpadu yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai barang atau jasa dalam kaitannya dengan memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia.
Pemasaran dimulai dengan pemenuhan kebutuhan manusia yang kemudian bertumbuh menjadi keinginan manusia. Contohnya, seorang manusia membutuhkan air dalam memenuhi kebutuhan dahaganya. Jika ada segelas air maka kebutuhan dahaganya akan terpenuhi. Namun manusia tidak hanya ingin memenuhi kebutuhannya namun juga ingin memenuhi keinginannya yaitu misalnya segelas air merek mineral yang bersih dan mudah dibawa. Maka manusia ini memilih Air mineral dalam kemasan botol yang sesuai dengan kebutuhan dalam dahaga dan sesuai dengan keinginannya yang juga mudah dibawa.
Proses dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan manusia inilah yang menjadi konsep pemasaran. Mulai dari pemenuhan produk (product), penetapan harga (price), pengiriman barang (place), dan mempromosikan barang (promotion).Seseorang yang bekerja dibidang pemasaran disebut pemasar. Pemasar ini sebaiknya memiliki pengetahuan dalam konsep dan prinsip pemasaran agar kegiatan pemasaran dapat tercapai sesuai dengan kebutuhan dan keinginan manusia terutama pihak konsumen yang dituju.




3. Konsep dan orientasi pemasaran Fungdi universal danTantangan Pemasaran
1.Penanggungan resiko
2.Pendanaan
3.Pengendalian informasi pemasaran Pembelian
4.Penjualan
5.Pengiriman
6.Penyimpanan
7.Standarisasi dan klasifikasi
8.Pembungkusan
Tantangan Pemasaran
            Informasi memang akan menjadi soko guru pemasaran pada abad 21. Namun informasi tidak berdiri tunggal.Ia informasi- akan banyak ditunjang oleh hal-hal lain di luar wilayah kajian informasi. Dengan demikian pemasaran disamping akan banyak dipengaruhi oleh informasi, dalam diri pemasaran akan mengalami pergeseran-pergeseran baru yang sifatnya strategis. Dalam abad 21 ini ada beberapa tantangan bagi profesi pemasaran.

1.Tantangan Visi
            Sering kali pengambilan keputusan pemasaran lebih didasarkan pada pemenuhan tuntutan masa sekarang. Dalam konteks global dimana keunggulan kompetitif produk dan jasa memiliki usia yang semakin pendek, hal demikian tidak dapat dipertahankan lagi. Tanggung jawab untuk melihat masa depan menjadi beban para eksekutif pemasaran. Dengan demikian tidak berlebihan bila dikatakan pemasar dituntut untuk menjadi visionary marketer yang strategis dan holistik dalam berpikir serta dapat menghidupkan fungsi marketing intelligence dan corporate intelligence secara nyata.
Pengembangan diri menjadi visionary marketer secara ideal perlu mengadopsi faham kewirausahaan yang mengutamakan proaktivitas dan menerima tanggung jawab utama sebagai innovator dan risk taker.Pemasar harus mempunyai keberanian untuk mendobrak kemapanan dan kreatif dalam menentukan strategi pemasaran. Orang muda macam Richard Kartawijaya ( Microsoft Indonesia ),Barry G Lesmana(Citibank),Betty Alisyahbana ( USI IBM ), Mulia Tambunan (Telkomsel), merupakan pemasar visioner yang akan banyak mewarnai dunia pemasaran Indonesia abad 21.

2.Tantangan pada Power Marketing
            Landasan utama power marketing adalah memanusiakan pelanggan yang terangkum dalam konsep customer centered marketing. Dengan demikian konsumen merupakan subyek, bukan obyek dari pemasaran. Power marketing akan bertumpu pada tiga kata kunci; moving, caring dan inovating. Moving merupakan tumpuan untuk menjawab gelora persaingan dan dinamika permintaan yang selalu bergejolak karena ekspektasi pelanggan yang semakin tinggi. Dalam perwujudannya, moving musti disertai kepedulian kepada pelanggan (caring) melalui langkah-langkah inovasi ( inovating ) di bidang strategi, manajerial, maupun produk/jasa.
Inovasi merupakan proses untuk menghantarkan nilai tambah bagi pelanggan. Kepuasan pelanggan akan menelurkan kepercayaan dan hubungan jangka panjang yang berkelanjutan, yang artinya tercipta loyalitas pelanggan. Hubungan pelanggan tidak sekedar hubungan pada dataran rasional belaka, tetapi sudah jauh merasuk ke dalam ranah emosi pelanggan.Sehingga pangsa pasar yang digenggam bukan hanya mind share, namun sudah masuk ke wilayah heartshare.

3.Tantangan pada Transferable Marketing
            Biaya pemasaran untuk memasuki arena global, secara logis akan meningkat pula. Salah satu cara untuk dapat meningkatkan efisiensi biaya adalah dengan memanfaatkan transferable marketing. Arti dari tranferable marketing adalah penyusunan pola pemasaran yang dapat dimanfaatkan untuk beberapa lokasi atau pasar sasaran dengan derajat universalitas yang ditingkatkan.Contoh yang bagus adalah konsep pemasaran dari DeBeers berlian.DeBeers dibuat di London dan Hongkong, sedang pemanfaatannya disebar ke berbagai lokasi, termasuk Indonesia. Penyebaran ini ( termasuk manfaat dan modelnya ) di sesuaikan dengan situasi negara setempat.

4.Tantangan pada Manajemen Merek
            Dalam upaya meningkatkan kiprah di dunia global, para pemasar ditantang untuk meningkatkan reputasi merek.Peran reputasi merek menjadi lebih penting untuk konteks abad 21 lantaran banyaknya jumlah merek yang beredar di pasar. Oleh karena itu di dalam perusahaan perlu ditumbuhkan adanya iklim kerja yang diwarnai dengan kebanggaan merek (brand minded culture). Harus pula diperhatikan pelaksanaan analisis realitas merek ke benak konsumen dalam rangka menentukan strategi peningkatan identitas merek.
Pada abad 21 house brand atau private label akan banyak diproduksi oleh perusahaan. Di Indonesia house brand banyak dilakukan oleh usaha eceran seperti; Matahari, Hero dan Makro.Untuk Matahari house brand produk pakaiannya diberi merek Stanley Adams dan M-2000. Sementara Hero pasar swalayan banyak bermain dalam house brand, semisal; Innosence untuk produk perlengkapan bayi, Hero Selection untuk soft drink, dan Hero untuk produk-produk industri rumah tangga. Untuk Makro, perusahaan ini menamai produk house brand-nya dengan sebutan Aro.

5.Tantangan pada Etika Pemasaran
            Masyarakat dan konsumen saat sekarang, terlebih lagi pada masa depan, akan peduli terhadap kualitas dan mulai memperhatikan sisi moralitas dan tanggung jawab sosial perusahaan. Termasuk dalam konteks ini adalah tingkat moralitas dari setiap keputusan pemasaran dan dampaknya bagi stake holder secara keseluruhan.Hal ini semakin dipertajam dengan adanya berbagai pendapat miring yang berkaitan dengan pemasaran, seperti rekayasa produk, penyalahgunaan label dan iklan, serta predatory pricing.Dalam situasi dimana persaingan menjadi lebih ketat dan reputasi perusahaan menjadi modal penting, maka mau tidak mau setiap kebijakan dan keputusan haruslah didasarkan pada kode etik yang berlaku dan ditetapkan oleh perusahaan maupun asosiasi profesional. Kode etik utama yang harus diperhatikan oleh para pemasar adalah; kejujuran dan keadilan dalam proses pemasaran, kode etik dalam bidang promosi, kebijakan harga dan distribusi, kode etik dalam riset pemasaran dan komitmen dalam memajukan peradaban manusia.
Tantangan pemasaran abad 21 seperti disebut diatas merupakan hal yang tidak bisa dihindari oleh para pemasar apabila ingin memenangkan persaingan.Pemasar sejak dini harus mampu mengantisipasi perubahan substansial dari pemasaran ini.Antisipasinya tidak terlalu sulit. Hanya dibutuhkan dua cara; mengoptimalkan kecerdasan dan bersahabat dengan perubahan.






REFERENSI

Assauri Sofjan.Manajemen Pemasaran.Cet XI: Jakarta: Rajagrafindo Persada. 2011
http://filsafatilmupdiefeuns2011.blogspot.com/2012/01/perkembangan-pemikiran-pemasaran.html
http://ratrianicp.wordpress.com/2014/04/14/pengertian-konsep-dan-lingkup-pemasaran/